Home  |   Contact Us
open-uri20120829-13664-13qbqsb.jpeg

Mikroskop Binokuler VS Virus Malaria

Peneliti dari Institut Penyakit Tropis, Universitas Airlangga, Indah S. Tantular, mengembangkan teknik deteksi malaria yang cepat, mudah, dan murah. Teknik deteksi ini didasarkan pada pengamatan ada tidaknya parasit malaria dalam darah manusia.

 

Ditemui dalam Press Tour dan Media Gathering bersama Kementerian Riset dan Teknologi, Kamis (16/5/2013), Indah mengungkapkan bahwa teknik deteksi malaria yang dikembangkannya hanya memanfaatkan mikroskop cahaya dan cairan acridine orange.

 

Untuk mendukung teknik deteksi, mikroskop cahaya binokuler sedikit dimodifikasi. Sumber cahaya diganti dengan lampu halogen. Sementara itu, ditambahkan filter khusus untuk menyeleksi panjang gelombang dari lampu halogen sesuai yang diinginkan.

 

Untuk mendeteksi malaria dengan teknik ini, caranya sangat mudah. Indah bahkan menyebutkan, orang yang tak ahli pun bisa melakukannya. Parasit malaria dapat ditandai dengan mudah lewat observasi mikroskop.

 

"Untuk mendeteksi, cukup mengambil sampel darah dan membuat hapusan tipis pada kaca preparat mikroskop. lalu, tambahkan cairan acridine orange pada sampel, kemudian diamati. Parasit akan tampak berpendar," urai Indah.

 

Menurut Indah, teknik yang dikembangkannya lebih murah dan mudah ditempatkan di wilayah endemik malaria. "Biasanya kita harus pakai mikroskop fluoresens yang mahal dan besar sehingga sulit dibawa ke daerah endemik," urai Indah.

 

Kemungkinan untuk membawa perangkat ke daerah endemik mendukung prgram deteksi malaria sejak dini. Tenaga kesehatan tak harus menunggu ada orang yang sakit parah, tetapi bisa melakukan screening di suatu wilayah endemik malaria.

 

Sumber : sains.kompas.com




Produk Terkait dengan artikel Mikroskop Binokuler VS Virus Malaria