Home  |   Contact Us
Mikroskop_Pendeteksi_Kanker.jpg

Mikroskop Pendeteksi Kanker

 

Dilansir dari : https://beritagar.id

Teknologi pembelajaran mesin (machine learning) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) saat ini berpotensi mendorong perkembangan teknologi berbagai bidang yang tak terhitung jumlahnya, termasuk bidang kesehatan.

 

Setelah bekerja sama dengan Rumah Sakit Mata Moorfields di London, Inggris, dalam mengembangkan AI pendeteksi penyakit mata, Google menggunakan machine learning dan realitas tertambah (augmented reality/AR) untuk membuat mikroskop yang bisa mendeteksi kanker, yang disebut Augmented Reality Microscope (ARM).

 

Penelitian dilakukan tim Google AI Healthcare dan hasilnya dipublikasikan dalam makalah berjudul "An Augmented Reality Microscope for Real-time Automated Detection of Cancer" yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Association for Cancer Research (AACR) di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, Senin (16/4/2018).

 

Selama ini, ahli patologi butuh waktu yang relatif lama dalam memeriksa jaringan biologis guna mengetahui apakah ada kanker atau tidak. Kalaupun ada, mereka butuh waktu lagi untuk menentukan jenis dan berapa banyak kanker tersebut.

 

AI telah lama diketahui bisa membantu proses pendeteksian tersebut, akan tetapi teknologinya mahal dan tak tersedia di banyak tempat.

Oleh karena itu, Google mengembangkan mikroskop yang memungkinkan kelompok dengan dana terbatas--termasuk laboratorium dan klinik kecil, atau negara berkembang--untuk menggunakan perangkat yang sederhana dan mudah digunakan.

 

"Kami yakin (ARM) berpeluang membantu mempercepat dan membuka adopsi perangkat deep learning bagi para patologis di seluruh dunia," tulis Martin Stumpe dan Craig Mermel, anggota Google Brain Team, dalam Google Research Blog.

 

Dalam penelitian ini Google bekerja sama dengan puluhan ahli patologi dari berbagai negara.

ARM terdiri dari mikroskop cahaya (optik) yang dimodifikasi sehingga memungkinkan dilakukannya analisis gambar real-time dan mempresentasikan hasil dari algoritma pembelajaran mesin langsung ke bidang penglihatan.

 

Hal terpenting, ARM bisa dipasangkan pada mikroskop cahaya yang biasa ditemukan di berbagai rumah sakit dan klinik di dunia, mengunakan komponen yang sudah banyak tersedia, dan tak perlu menganalisis seluruh gambar versi digital dari jaringan biologis yang tengah diperiksa.

 

 

ARM menggunakan convolutional neural network (CNN) yang dihubungkan dengan mikroskop. CNN itu kemudian dilatih untuk mendeteksi sel kanker dalam gambar jaringan tubuh manusia.

 

Bagaimana cara kerjanya?

 

Dilansir dari : https://beritagar.id

Engadget memaparkan, setelah slide berisi jaringan tubuh manusia ditempatkan di bawah mikroskop yang telah dimodifikasi tersebut, imaji yang sama dengan yang dilihat oleh mata si pengamat akan dikirimkan langsung ke komputer.

 

Algoritma AI yang telah dilatih akan mendeteksi adanya jaringan kanker atau tidak. Jika ada, AI bakal membuat garis petunjuk keberadaan sel kanker tersebut, seperti terlihat pada gambar di atas.

 

Pada prinsipnya, ARM bisa memberikan umpan balik dengan ragam jenis visual, termasuk teks, panah, kontur, peta panas, atau animasi. Gawai ini, klaim Google, juga bisa menjalankan beragam algoritma pembelajaran mesin untuk menyelesaikan masalah berbeda, seperti deteiksi, kuantifikasi, atau klasifikasi objek tertentu.

 

Semua berjalan real-time dan bekerja dengan cepat, meski slide tersebut digeser oleh peneliti untuk melihat bagian lain dari jaringan tubuh tersebut.

 

Dalam demonstrasi penggunaan ARM, Google mengkonfigurasikannya untuk menjalankan dua algoritma pendeteksian kanker berbeda, yaitu metastasis kanker payudara dalam spesimen kelenjar getah bening dan kanker prostat dalam spesimen prostatektomi.

 

Model-model ini dapat berjalan pada perbesaran antara 4-40 kali, dan hasil dari model yang diberikan ditampilkan dengan menguraikan wilayah tumor yang terdeteksi dengan kontur hijau. Kontur ini membantu menarik perhatian ahli patologi ke bidang minat tanpa mengaburkan tampilan sel tumor yang mendasarinya.

 

Sejauh ini, seperti dinukil 9to5google (17/4), tim Google menjelaskan jika AI mereka baru bisa menemukan kanker payudara dan prostat saja.

 

"Tentu saja, mikroskop cahaya telah terbukti bermanfaat di banyak industri selain patologi, dan kami percaya bahwa Augmented Reality Microscope (ARM) dapat diadaptasi untuk berbagai aplikasi di bidang kesehatan, penelitian ilmu pengetahuan alam dan material sains," kata Google pada blognya.

 

Google percaya bahwa ARM berpotensi besar untuk kesehatan global, terutama untuk diagnosis penyakit menular seperti tuberkulosis dan malaria, di negara berkembang.

 

Sumber : https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/google-kembangkan-mikroskop-cerdas-pendeteksi-kanker




Produk Terkait dengan artikel Mikroskop Pendeteksi Kanker